Penasaran bagaimana Anti Bisnis Gagal!. Bangun Bisnis Ala Abdurahman Bin Auf?
tentu sangat melekat di ingatan kita, tentang seorang
sahabat Rasulullah yaitu Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan
Saad bin Rabi. Begitu tiba di Madinah, Saad berkata kepada Abdurrahman,
“Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya. Silakan
pilih separuh hartaku dan ambillah, dan aku mempunyai dua istri,
pilihlah salah satu yang menurut anda lebih menarik dan akan aku
ceraikan dia supaya anda bisa memperistrinya.” Abdurrahman pun menjawab,
“Semoga Allah memberkati anda, istri anda dan harta anda. Tunjukkanlah
jalan menuju pasar.”
Dengan izin Allah,
Abdurrahman menjadi sahabat Rasulullah yang banyak membawa manfaat untuk
umat Islam karena bisnis dan perdagangannya.
Luar biasa, ya, sob.
Berikut ini Nida telah mengulas cara bisnis menguntungkan ala Abdurrahman bin Auf,
1.Modal mental lebih penting daripada modal harta
Mental kaya lebih
penting daripada kaya. Abdurrahman memulai bisnisnya dari nol dan mampu
mengumpulkan kekayaan lebih banyak karena dia memiliki mental kaya.
Bentuk dari mental kaya ini adalah selalu mau memberi bukan hanya
menerima, siap dengan kerasnya usaha, tangguh, bersungguh-sungguh dalam
usaha dan meyakini keberhasilan usahanya. Perhatikan perkataan
Abdurrahman bin Auf dalam meyakini keberhasilannya. Beliau
berkata,”Seandainya aku membalik sebuah batu, maka, aku akan menemukan
emas atau perak.”
2.Paham seluk beluk perdagangan
Abdurrahman bin Auf
tidak hanya bermodalkan harta dan mental kaya. Tapi, beliau juga
memahami secara mendalam seluk beluk perdagangan secara teknis di
Madinah. Abdurrahman mengetahui kondisi pasar. Sesampainya di Madinah,
Abdurrahman mendatangkan minyak samin dan keju dari wilayah lain untuk
dijual di Madinah. Hal ini menunjukkan bahwa Abdurrahman paham betul
masalah supplier, jalur distribusi, networking, marketing, dan juga
selling di Madinah. Beliau juga menjalankan strategi dalam memilih jenis
usaha, serta selektif dalam memilih kualitas barang dan layanan yang
mengandalkan kejujuran.
3.Memiliki kepribadian teladan
Persahabatan yang
dianjurkan dalam Islam menjadi salah satu dasar yang mendorong
keberhasilan Abdurrahman. Abdurrahman dikenal memiliki kepribadian yang
baik sampai sempat menjadi kandidat pengganti Khalifah sebelumnya, namun
jiwanya yang tidak ambisius mengarahkannya untuk mundur. Beliau dikenal
sebagai seseorang yang berpenampilan sederhana. Meskipun sudah menjadi
saudagar yang kaya raya, beliau tidak lantas lari dari kewajiban perang,
di tubuhnya paling tidak terdapat 20 bekas luka, beberapa gigi seri
yang patah, serta kaki yang pincang akibat peperangan melawan kaum
kafir.
4.Rajin berinfak dan bersedekah
Abdurrahman bin Auf
saat sudah berdagang, beliau meniatkan semua hartanya untuk diinfakkan
di jalan Allah semaksimal mungkin. Saat perang Tabuk, beliau
menginfakkan 200 uqiyah setara dengan 5,95 kg emas, apabila 1 gram emas
setara 500 ribu rupiah, maka, Abdurrahman bin Auf sudah memberikan 2,9
milyar dalam perang Tabuk.
Abdurrahman bin Auf
yang pernah menjual tanah seharga 40 ribu dinar setara 90,4 milyar, uang
tersebut dibagikan kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari
kalangan Muhajirin dan Anshar.
Begitulah saat
seseorang membantu agama Allah, Allah akan membantunya. Siapa yang
memberi pinjaman kepada Allah, akan dilipatgandakan. Abdurrahman bin Auf
bertambah kaya karena menginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah
berfirman dalam qur’an surat Al Baqarah ayat 245,
“Siapakah yang mau
memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya
di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya
dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan
(rizki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
5.Melibatkan Allah subhanahu wa ta’ala
Cara bisnis dengan
melibatkan Allah akan membuat bisnis yang kita jalani mencapai kejayaan
dan kesuksesan. Bagaimana cara melibatkan Allah?
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa
membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak
kesusahan orang mu’min ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan
satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada
hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu)
kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan
urusannya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib
orang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar
menolong saudaranya.” (HR.Muslim)
Abdurrahman menjadi
sahabat yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang
dikendalikan oleh hartanya. Ia tidak mau celaka dengan menyimpan harta,
ia mengumpulkan dengan santai dan dari jalan yang halal, tetapi, ia
tidak menikmatinya sendirian. Orang-orang Madinah pernah berkata,
“Seluruh penduduk Madinah berserikat (menjalin usaha) dengan Abdurrahman
bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkan kepada mereka, sepertiga
digunakan untuk membayar hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan
dan dibagi-bagikan kepada mereka.”
Abdurrahman dan
penduduk Madinah saling mendahulukan kepentingan saudaranya, sehingga
Allah membukakan keberkahan dan Allah membukakan peluang menguasai
ekonomi umat. Bahkan, pasar Madinah yang tadinya dikuasai Yahudi
berpindah ke tangan Muslimin. Berawal dari sikap tolong-menolong
(ta’awun) sesama muslimin, lalu saling memecahkan masalah saudaranya,
dan menjadi penguasa ekonomi saat itu. Inilah hasil dari mematuhi hukum
Allah.
dikutip dari: http://www.annida-online.com


EmoticonEmoticon