Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Oktober 2017

Puisi penyemangat bagimu yang merindukan kesuksesan



Bukan kamu jika tidak bergerak

Kau adalah penentu cahaya terang datang
Menunggu tuk membahagiakan
Menolong tuk menyelamatkan
dan melenyapkan jarak
Tuk saling menyapa.

Mimpimu adalah menggemgam matahari
Panasnya siap dijadikan kesegaran
dengan dunia ditanganmu
dan akhirat di hatimu

rizky.naoki
bandung september 2017

Selasa, 31 Januari 2017

Wahai Calon Pengusaha Sukses!. Hindarilah 8 Sifat yang Membuat Anda Gagal Berwirausaha Ini


Seorang pengusaha merupakan sosok yang membangun bisnis dan memimpin bisnis. Maka hendaklah pengusaha memiliki mental seorang pengusaha. Akan tetapi, ada 8 sifat pengusaha dibawah ini yang harus dihindari, karena akan membuat bisnis anda tidak lancar bahkan tak berjalan.
 
1. Cemas (al-hamm)
Yaitu kekhawatiran akan terjadinya hal yang tidak disukai di masa sekarang atau yang akan datang. Seorang pengusaha tentu berangkat dari niat yang kuat untuk memulai usaha dan dengan harapan yang kuat bisa memperoleh keuntungan dari hasil usahanya. Dengan rasa optimis, maka usaha akan lebih besar dan respon terhadap masalah akan lebih terukur. Tetapi bila rasa cemas berlebihan, maka bisa menimbulkan rasa minder, pikiran buntu, dan tidak bisa menatap peluang-peluang yang ada di depan mata.
Sebagai pengusaha pemula kadang kita cemas dan khawatir, jangan-jangan produk kita tidak laku, jangan-jangan rugi, dan kekhawatiran lainnya. Kecemasan akan jalannya usaha di masa akan datang bisa saja membuat pengusaha menjadi down, apalagi bagi penguasaha pemula, bisa-bisa dia mutung, tidak semangat menjalankan usaha, bahkan menutup usahanya sama sekali.
Seorang calon pengusaha harus optimis menatap ke depan yang cerah, penuh harapan bahwa usahanya akan berhasil, meluruskan niat dan melakukan semua proses dengan baik.

2. Sedih (al-hazn)
Yaitu penyesalan dan duka cita atas apa yang terjadi di masa lalu. Contohnya saja bila seorang penguasaha mengalami kerugian pada hari sebelumnya, maka hal tersebut bisa mempengaruhi pikirannya dan membuatnya trauma. Kesedihan tentu tidak bisa dihindari, akan tetapi bila berlarut-larut maka bias merusak jalannya usaha yang dirintis.
Oleh sebab itu, seorang pengusaha harus segera bangkit dari kesedihan dan menyiapkan mental untuk bangkit dan memperbaiki usahanya.. Dalam kondisi apapun, berusaha menghapus kesedihan, yakin dan bersangka baik kepada Allah bahwa apa yang terjadi kemarin, mungin untuk membuat kita bertambah pengalaman dan bertambah kuat menghadapi segala masalah yang mungkin akan datang lebih besar.

3. Lemah (al-‘ajz)
Baik lemah pikiran dan lemah fisik. Lemah pikiran dalam arti tidak punya ide-ide kreatif yang bisa mengembangkan usahanya, juga lemah dalam arti tidak punya keahlian dan ketrampilan untuk menjalankan usahanya, sehingga cepat putus asa dan berhenti dari proses berusaha.
Biasanya pengusaha pemula mempunyai ide-ide yang kreatif, dan energi yang besar ketika memulai usaha. Tetapi ketika mulai mendapatkan rintangan di jalan, mereka kehilangan ide-ide itu dan kehilangan energi untuk menghadapinya.
Oleh sebab itu perlu ada support dari orang terdekat, mentor, atau teman sesama pengusaha yang telah merasakan jatuh-bangun dalam menjalankan usahanya.
Terus belajar, terus mencari pengalaman, berbagi pengetahuan dengan sesama pengusaha, atau membaca kisah-kisah sukses para pengusaha, bisa jadi mengikis kelemahan, sehingga lama-kelaman punya ide-ide yang kreatif dan aplikatif, serta trampil dalam menjalankan usaha.

4. Malas (al-kasal)
Yaitu rasa enggan untuk melakukan suatu usaha padahal mampu melakukannya. Malas berkaitan dengan motivasi seseorang. Malas bisa terjadi karena menganggap suatu pekerjaan terlalu mudah, atau menganggapnya terlalu sulit. Bila kita menganggap suatu pekerjaan mudah, maka kita akan menunda-nundanya, dengan alasan bahwa dengan mudah kita bisa menyelesaikannnya dengan cepat. Sebaliknya jika menganggap suatu pekerjaan terlalu sulit, maka kita akan merasa terbebani untuk melaksanakannya dan menganggap bahwa dirinya tidak sanggup melakukannya.
Seorang pengusaha harus memiliki sifat rajin, tekun, giat dalam menjalankan usahanya. Kalau sudah malas melakukan suatu pekerjaan, lalu apalagi yang bisa diharapkan? Hanya merenung, menghayalkan kekayaan, rumah megah, mobil mewah, tapi tidak mau berusaha, maka tidak ada yang didapatnya.

5. Takut (al-jubn)
Rasa takut memulai seringkali muncul pada orang yang hendak memulai usaha. Keadaan seseorang mempengaruhi hal ini. Seseorang yang sudah hidup dalam kemapanan, akan takut untuk memulai usaha, takut kehilangan potensi pemasukan finansial. Seorang pekerja kantoran yang menerima gaji bulanan, akan berat meninggalkan pekerjaannya untuk memulai usaha. Kemapanan yang selama ini dirasakan, sulit untuk dilepaskan, sedangkan memulai usaha membutuhkan waktu dan kesabaran untuk berkembang. Belum lagi takut resiko kerugian.
Ketakutan juga bisa terjadi pada orang yang sudah menjalankan usahanya. Takut membuat ide-ide baru, takut mengambil keputusan untuk perusahaan, takut bersaing dan lailn-lain.
Seorang pengusaha harus berani dan tegas mengambil keputusan, berani membuat ide-ide kreatif yang bisa memajukan usahanya.

6. Bakhil
Seorang pengusaha tentu menjalankan usahanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Salah satu tujuan berwirausaha adalah agar mempunyai pemasukan finansial yang lebih besar. Tetapi apabila harta sudah terkumpul, maka harus ditunaikan hak-hak dan kewajibannya. Seperti zakat, sedekah dan lain-lain.
Selain bakhil secara materi, bisa juga berarti bakhil atas ide-ide usaha yang dijalankannya. Bila memang sudah sukses, apa salahnya jika berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para pengusaha pemula, bagaimana tips dan trik menjalankan usaha agar bisa sukses.
Walaupun sekarang telah banyak buku-buku tentang wirausaha dijual di toko-toko buku, ada baiknya kita berbagi langsung dengan orang lain agar kesuksesan juga bisa dinikmati orang banyak. Lagian, dengan berbagi, ilmu tdak akan berkurang.

7. Lilitan Hutang (dhala’i ad-dain)
Musuh lain pengusaha adalah hutang. Memulai usaha tentu butuh banyak modal. Lalu bagaimana mendapatkan modal itu? Beberapa calon pengusaha berani mengambil resiko dengan berhutang dulu untuk modal usahanya. Berhutang tentu boleh saja, asalkan kita punya kemampuan untuk membayarnya. Tetapi, lebih baik apabila modal usaha dari kantong sendiri, sehingga segala resiko di masa mendatang ditanggung sendiri tanpa ada tekanan dari orang lain yang mengejar-ngejar kita karena punya hutang.
Kadang hutang juga menghalangi kita untuk menjalankan usaha. Karena hutang, kita tergoda untuk kembali kerja kantoran, kerja ikut orang lain dan lain sebagainya, sehingga cita-cita untuk beriwarusaha gagal.

8. Dikuasai Orang Lain (ghalabat ar-rijaal)
Ketika kita memutuskan untuk berwirausaha, bukan berarti jalan mudah menanti kita. Kadang orang-orang terdekat kita yang justru menghalangi kita. Oran tua kita dengan keras menentang kita. Anak istri juga menentang kita. Bila kita berkeras menjalankan usaha. Tekanan-tekanan orang-orang tersebut bias menghalangi niat kita untuk memulai usaha. Apalagi bila orang diluar kita lebih dominan, maka niat usaha sulit untuk diwujudkan.
Bagi yang sudah menjalankan usaha, bisa juga mendapatkan tekanan dari orang lain. Seperti apabila kita mau mengambil keputusan, lalu ada orang lain yang berjasa kepada kita, berhutang budi padanya, kita sering mendapatkan hadiah darinya, sehingga kita segan untuk mengambil keputusan baik yang tidak sesuai dengan pemikiran dia. Ini juga jenis tekan dari orang lain.
Bila kita dibawah kekuasaan orang lain, maka kita tidak bisa membuat keputusan untuk diri sendir. Kita tidak punya kemerdekaan untuk menjalankan apa yang kita inginkan.
Oleh sebab itu, rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada kita agar terhindar dari delapan penyakit tersebut. Doa tersebut adalah:
Allahumma inny a’udzu bika minal hammi wal hazani, wal ajzi wal kasali, wal jubni wal bukhli, wal dhola’id daini wa ghalabatir rijaal.”
Artinya:
“ Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas, sedih, lemah, malas, takut, bakhil, lilitan hutang dan dikuasai orang lain. ” (Al Bukhari, 7/158, Fathul Bari, 11/173)

Miliki Sosok Teladan Pengusaha!. Menteladani Sosok Abdurahman bin Auf, Sang Pengusaha Sejati.


Seorang enterpreneur sejati dengan segala kemampuannya adalah orang yang mampu bertahan, berusaha, lalu berkembang dalam keadaan sesulit apapun. Dalam hal ini kita bisa mengambil ibarat dan teladan dari Sahabat Rasululullah, dimana ketika mereka hijrah dari Makkah menuju Madinah, mereka hanya membawa bekal seadanya. Mereka pergi meninggalkan keluarga, tempat tinggal dan harta yang mereka miliki.
Diantara Sahabat yang sangat pandai berdagang adalah Abdurrahman bin Auf, seorang Sahabat yang termasuk As-saabiquun Al-Awwalun (Orang-orang yang pertama masuk Islam), dan merupakan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Adalah Abdurrahman bin Auf seorang pedagang yang sangat mahir, dan Allah melimpahkan keberkahan dalam setiap aktifitas dagangnya.
Al-Bukhari meriwayatkan bahwa tatkala Muhajirin tiba di Madinah, maka Rasulullah shallallahu alihi wa sallam mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dengan Saad bin Ar-Rabi’. Saad berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya dikalangan Anshar, ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri, maka lihatlah mana yang engkau pilih agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah dia.”
Abdurrahman bin Auf berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkanlah saja mana pasar kalian.”
Maka orang-orang menunjukkan pasar Bani Qainuqa
’. Tidak seberapa lama kemudian dia sudah mendapatkan samin dan keju. Jika pagi dia sudah pergi berdagang. Suatu hari dia datang agak pucat.
Bagaimana keadaanmu?” tanya Rasulullah.
Aku sudah menikah.” jawabnya.
Berapa banyak maskawin yang engkau serahkan kepada istrimu?”
ia menjawab, “Beberapa keping emas.”
(Shahih Al-Bukhari, Bab: Ikhaa’un Nabi bainal Muhajirin wal Anshar, 1/553)
Lihatlah bagaimana kemudahan yang disediakan oleh Saad bin Ar-Rabi’ tidak membuat Abdurrahman menerima begitu saja. Dia tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Bahkan dia memilih untuk berusaha sendiri dengan tangannya, dan Allah memberikan keuntungan yang banyak. Dan adalah Abdurrahman bin Auf seorang sahabat yang sangat dermawan. Dia memilih menjadi orang dengan tangan diatas (suka menginfakkan hartanya di jalan Allah).
Ibnul Mubarak mentakhrij dari Ma’mar, dari Zuhry, dia berkata, “Abdurrahman bin Auf pernah menginfakkan separoh harta miliknya pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu ditambahi lagi dengan empatpuluh ribu Dinar, lalu ditambah lagi dengan menyerahkan lima ratus ekor kuda dan lima ratus ekor unta yang mayoritas hartanya ini diperoleh dari hasil perdaganyannya.” (Al-Ishabah, 2/416)
Dengan segala kepandaiannya Abdurrahman menjadi teladan bagi kita, tentang kesungguhan, kemandirian, dan kedermawanan, bahkan juga kezuhudan. Kita tentu percaya dan yakin bahwa Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat yang tahu hukum halal haram, dan tentu saja perniagaannya dijalankan dengan cara yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-suunnah. Tetapi dia masih saja khawatir dengan harta yang dimilikinya akan menjadi beban baginya. Padahal dia telah menginfakkan begitu banyak dijalan Allah.
Al-Bukhari mentakhrij dari Saad bin Ibrahim, dari ayahnya, bahwa Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu pernah disuguhi makanan untuk berbuka, karena pada hari itu dia sedang berpuasa.Lalu dia berkata, “Mush’ab bin Umair telah terbunuh dan dia lebih baik dari aku. Diadikafani dengan mantelnya, jika mantelnya ditarik ke atas untuk menutupi kepalanya, maka kedua kakinya menyembul, dan jika mantel itu ditarik untuk menutupi kedua kakinya, maka kepalanya meyembul. Aku juga pernah mendengar dia berkata, “Hamzah telah terbunuh dan dia lebih baik dari aku.” kemudian keduniaan dihamparkan dan dilumpahkan kepada kita. Kami khawatir kesenangan-kesenangan ini disegerakan kepada kita di dunia saja.” lalu diapun menangis.
Yang serupa dengan ini juga ditakhrij Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 1/100. Lihatlah, seorang sahabat yang dijamin untuk masuk surga masih bisa menangis khawatir bahwa kesenangan itu hanya di dunia saja. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkan harta kita diperoleh dengan perniagaan yang halal, sudahkan kita membersihkan harta kita dengan zakat? Berapa banyak yang sudah kita infakkan di jalan Allah? Mari menghitung-hitung diri!.

Senin, 30 Januari 2017

Berbisnis dengan Allah, Berbisnis Yang Tak Akan Pernah Merugi!.

Umat Islam di era modern mungkin tak lagi bisa menatap Rasulullah. Tak bisa berdialog apalagi meminta nasihat beliau.

Presiden Yayasan Al Fatih Kaffah Nusantara, Ustaz Fadhlan Gharamatan, mengatakan mesti tidak lagi bertemu atau berdialog dengan beliau, warisan Rasulullah telah membuat umat Islam dari berbagai suku, dan ras, seperti masyarakat Indonesia di Bagian Barat, Tengah, dan Timur berkumpul menyebut nama Allah dan Rasul-Nya.

‎" Jadi, kita harus lanjutkan apa yang diwariskan beliau," kata dia, ketika mengisi ceramah Isya di Masjid Kimbi, Wamena, Jakarta, Jumat (23/9)m

Ustaz Fadhlan mengatakan, warisan lain yang diteladankan Rasulullah adalah berbisnis bersama Allah. Bagaimana caranya, yakni berjuang di jalan Allah.

"Banyak intepretasi soal ini, tapi intepretasi yang benar adalah berjuang menjadi da'i terbaik. Yang berdakwah kepada setiap orang walaupun hanya sepenggal ayat," kata dia.

Bagi yang memiliki harta, kata Ketua Komite Umat untuk Tolikara ini, jangan lupa sedekahkan. Sisihkan agar syiar Islam tetap jalan, usaha maju, dan dapat membangun masjid.

"Apakah berbisnis dengan Allah rugi," tanya Ustaz kepada jamaah.

"Begini, Anda sedekahkan 10 juta saja, Allah akan balas 100 kali lipat. Anda dapat berapa?"

‎Kalau tidak punya harta, kata dia, setiap Muslim bisa memikul batu atau cor masjid. "Jadi, banyak cara berbisnis dengan Allah. Jangan takut, hanya dalam Islam, setiap hal baik yang dilakukan akan mendapatkan balasan dari-Nya," kata dia.‎ 




sumber:
Red: Agung Sasongko
http://khazanah.republika.co.id

Tips Umar bin Khattab dalam Membangun Bisnis Mulia

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy.
Umar bin Khatab adalah salah satu sahabat dekat Rasulullah SAW dan khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash shiddiq r.a. Beliau termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Dijuluki sebagai Umar Al Faruq (sang pembeda) karena ketegasannya dalam menegakkan kebenaran. Seorang yang keras namun berhati selembut salju, administrator dan peletak landasan manajemen ekonomi negara yang cemerlang.
Semenjak menjadi khalifah hidup sangat sederhana, meskipun kaya raya. Beliau hendak memberikan teladan yang baik bagi kaum muslimin tentang konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.
Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan (70.000x40juta).
Umar adalah khalifah yang sangat mementingkan usaha dan kerja yang produktif. Ia menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah tertinggi. Ia pernah berpetuah: “Aku tetapkan kalian tiga bepergian: berhaji, berjuang di jalan Allah, dan berunta demi mencari sebagian karunia Allah.” Bahkan ia menganggap syahid seseorang yang meninggal dalam perjalanan terakhir.
Suatu waktu, Umar menanyakan nafkah seseorang yang tekun beribadah di masjid. Orang itu menjelaskan, “Aku memiliki saudara yang mencari kayu. Lalu dia mendatangiku dan mencukupiku.” Lalu Umar berkata, “Berarti, saudara engkau lebih beribadah daripada engkau.”
Masih soal kerja. Umar sering menasihati, “Cukupilah dirimu, niscaya akan lebih terpelihara agamamu dan lebih mulia dirimu.” Bukan saja menasihati, Umar juga mempraktekkannya setiap hari. Begitu selesai sholat shubuh, Umar selalu bergegas menuju kebunnya di Juruf. Ia berusaha mencukupi dirinya.
Umar memahami dengan baik arti penting ekonomi umat. Salah satu buktinya, ia mengutamakan pembangunan pasar dan masjid di daerah-daerah taklukan. Ia juga mengizinkan Utsman bin Abul Ash mengelola lahan tidur. Ia juga kerap menasihati para pekerja dan pegawai agar memiliki asset produktif yang dapat menghasilkan uang terus menerus. Umar juga menjajak orang-orang untuk berdagang. Nasihatnya, “Berdagang itu merupakan sepertiga harta.”
Umar sendiri memiliki 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.
Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah!
Oleh: H. Jazuli Juwaini, MA